Kamis, 31 Juli 2014

Tidak Mengakui

Penyakit. Banyak orang yang merasa dirinya tidak sesuai apa yang ia harapkan. bukan lagi banyak orang. aku sendiri kadang-kadang merasa tidak pas dengan apa yang ada padaku saat ini. Entah itu naluri manusia atau apa. Semua ingin terpandang tanpa berfikir bahwa dengan adanya siswa, pasti disitu muncul seorang guru. Dimana ada masalah, disitu pasti juga muncul solusi. jadi yang pengen selalu di atas, cobalah untuk memahami roda kehidupan. Kamu di atas itu berkat adanya mereka yang di bawah.
Kejamnya. kebanyakan mereka yang diatas(strata sosial) tak sadar akan semua hal itu. Segelintir bagian dari mereka hanya memuntahkan kata-kata yang menyakitkan hati. mereka Lupa, sehingga yang dibawah pun mengutarakan do'a agar keadilan ditegakkan.
Apa yang terjadi bila semua diputar ? "Roda Jaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih. Sungguh Hidup terus diburu berpacu dengan waktu. Begitulah lirik bersyair yang kudengar.  Bukannya menyalahkan yang diatas  saja, kalangan yang dibawah hendaknya juga mawas diri, tengoklah kebawah. jangan keatas. karena bila terus mendongak, membuatmu berjalan menuju kepalsuan hidup. seolah kamu tidak mengakui apa yang seharusnya terjadi. itu pertanda kurang syukurr. 
Ikuti alur apa adanya. tak begitu menguras energi bila dibanding dengan lari dari kenyataan. 
Oke sampai disini sudah kehabisan argumen. itupun belum tentu argumen-argumenku itu banyak diterima hoho. sekian wassalammm~

Minggu, 27 Juli 2014

Kedamaian hati


Kota mati ini kini benar-benar menjadi hidup. Tidak hanya jalanan yang ramai tapi juga ditiap sudut pelosok kota selalu ada sekumpulan orang yang memiliki banyak kesamaan yang sering kita sebut saudara. Rumah-rumah yang sepi kini menjadi ramai, rumah-rumah yang redup kini menjadi terang benderang, suara-suara yang biasanya diisi oleh hewan-hewan malam kini diisi oleh takbir dari microphone masjid yang menggelegar di penjuru-penjuru kota. Langit yang biasanya kusam berawan kini menjadi langit malam berbintang, hawa dingin yang menisuk tulang kini pun menjadi tenang. Wajah riang berbondong-bondong saling berucap salam. Ketenangan hati, ketentraman jiwa, kedamaian raga. 
Tak sanggup lagi diri ini menahan peluh yang seakan berontak ingin keluar, ia juga ingin merasakan kedamaian, ketenangan dan kemanangan. Tak sanggup lagi hati ini menahan derasnya kebahagiaan, Allohuakbar! Tak menyangka akan segera menggoreskan jejak di lembar baru yang masih bersih tiada bernoda. Seolah kita terbebas dari dosa-dosa yang menumpuk dipikiran. 
Ada banyak sekali salah yang diperbuat yang terkadang sampai menyebabkan sakit hati. Kau tau? Noda dihati takkan bisa hilang seperti kayu yang di paku, bekas paku itu takkan pernah hilang. Benar-benar menyesal apabila aku pernah menggores luka dihati. Yang hanya bisa kulakukan hanyalah meminta maaf :’) maafkan Rista ya kawan :) . Hidup akan terasa lebih nyaman dan tentram apabila kita rukun dan saling berdampingan semacam tiang-tiang yang bekerjasama menyangga bangunan yang kokoh lagi megah.

Kamis, 24 Juli 2014

Tak usah memberi kesan yang baik bila pada akhirnya harus berpisah

Suatu hari dikala aku tengah sendiri disebuah bus yang mengantarkanku ke suatu kota tujuan, seseorang berkerudung dengan senyum yang berbinar menghampiriku. Kulontarkan jawabku dengan senyum pula waktu itu. Mulai dari memperkenalkan diri hingga lama-kelamaan saling bersenda gurau menunjukkan keakraban. Dari seorang, kini menjadi semakin banyak yang ku kenal, hingga akhirnya aku merasa begitu nyaman dengan mereka semua. Di hari lainpun juga terjadi hal yang sama. Awalnya saling malu, tapi dia mencoba untuk memulai pembicaraan yang kosong. Basa-basi untuk menarik topik dan akhirnya lama-kelamaan merasa nyaman saat berbincang dengannya. Masih ada lagi, yang satu ini tengah ku rasakan. Diawalnya aku tidak tahu, semua berjalan tanpa perkenalan yang formal. Sok kenal, yang akhirnya menjadi kenal. Baik, penyabar, penyemangat, paham akan diriku, dan juga penasihat yang baik. Aku tak tahu apa yang salah. Aku hanya sering mengadukan kesulitan-kesulitanku kepadanya dan ia selalu membantuku dan selalu memberi semangat bahwa aku bisa. Lagi-lagi aku merasa nyaman dengan seorang yang baru. Namun semua kenyamanan itu tidak bertahan begitu lama. Semua itu lekas pergi. Kenapa ? tak bolehkah aku berada diantara orang-orang dimana aku merasa nyaman bila berada diantara mereka ? Semua ini terasa begitu berat. Kenapa bila ada pertemuan pasti ada perpisahan ? kalau memang begitu, tak usahlah memberi kesan yang baik bila pada akhirnya harus berpisah. Dan kini hanyalah aku sendiri, kembali menjalani aktifitas keseharianku. Mereka hanyalah ingatan rindu yang terkadang berontak.